Header Ramadhan Indischool

10 Hal yang Tidak Membatalkan Puasa

Kamis, 2 Juni 2016 - 14:00 281

Abis dari sekolah pulang ke rumah terus ga sengaja minum, behhh seger banget ya gaes. Terus tiba-tiba keingetan kita lagi puasa... Pernah ngalamin yang begituan kaga gaes? Kira-kira puasa kita batal ga ya kalo kelupaan gitu... Yuk kita liat hal apa aja yang tidak membatalkan puasa:

1. Mendapati waktu fajar dalam keadaan junub.

Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasuki waktu shubuh dan beliau belum mandi wajib namun beliau tetap melanjutkannya puasanya.

-‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.”- (HR. Muslim no. 1109)

Dari hadits tersebut dapat dilihat bahwa junub ketika sudah masuk waktu shubuh tidak membatalkan puasa. Namun dianjurkan untuk mandi junub sebelum matahari terbit agar kita tetap bisa sholat shubuh ya gaes. 

2. Bersiwak atau menggosok gigi ketika berpuasa.

-Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk menyikat gigi (bersiwak) setiap kali berwudhu.”- (HR Bukhari, dikeluarkan secara mu’allaq, tanpa sanad)

Menurut fatwa Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah, boleh menyikat gigi menggunakan pasta gigi dengan tetap menjaga agar tidak ada yang tertelan. Sebagaimana disyariatkannya bersiwak bagi orang yang berpuasa di awal siang atau akhirnya. Sebagian ulama ada berpendapat makruh menggunakan siwak sesudah matahari tergelincir, dan itu pendapat yang lemah. Yang benar, tidak dimakruhkan berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, 

-"Bersiwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridlaan Allah."- (HR. An Nasai, dengan sanad shahih dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

3. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung dengan tidak berlebihan.

-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam ber-istinsyaq (memasukkan air dalam hidung) kecuali jika engkau berpuasa.”- (HR. Abu Daud no. 142, Tirmidzi no. 788, An Nasa’i no. 87, Ibnu Majah no. 407, dari Laqith bin Shobroh.)

At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Adapun berkumur-kumur dan ber-istinsyaq (memasukkan air dalam hidung) dibolehkan bagi orang yang berpuasa dan hal ini disepakati oleh para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat juga berkumur-kumur dan ber-istinsyaq ketika berpuasa. ... Akan tetapi, dilarang untuk berlebih-lebihan ketika itu.”

4. Bercumbu dan mencium istri selama tidak menyebabkan keluarnya mani.

-Dari Jabir bin ‘Abdillah, dari ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Pada suatu hari aku rindu dan hasratku muncul kemudian aku mencium istriku padahal aku sedang berpuasa, maka aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku berkata, “Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur?” Aku menjawab, “Seperti itu tidak mengapa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu apa masalahnya?”-

(HR. Ahmad 1: 21)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim.

Menurut pendapat Imam Nawawi bahwa tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa bercumbu atau mencium istri tidak membatalkan puasa selama tidak keluar mani.

5. Bekam dan donor darah selama tidak membuat lemas.

-Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berihrom dan berpuasa.- (HR. Bukhari no. 1938)

-Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.”- (HR. Bukhari no. 1940) 

Imam Asy Syafi’I rahimahullah dalam Al Umm mengatakan, “Jika seseorang meninggalkan bekam ketika puasa dalam rangka kehati-hatian, maka itu lebih aku sukai. Namun jika ia tetap melakukan bekam, aku tidak menganggap puasanya batal.” (Kitab Al Umm, 2 : 106)

Termasuk dalam pembahasan bekam ini adalah hukum donor darah karena keduanya sama-sama mengeluarkan darah sehingga hukumnya pun diqiyaskan atau dianggap sama. (Shahih Fiqh Sunnah, 2 : 113 – 114)

6. Mencicipi makanan selama tidak masuk dalam kerongkongan.

-Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anh, ia mengatakan, “Tidak mengapa seseorang yang sedang berpuasa mencicipi cuka atau sesuatu, selama tidak masuk sampai ke kerongkongan.”- (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf 2 : 304)

Syaikh Al Albani dalam Irwa’ no. 937 mengatakan bahwa riwayat ini hasan.

Yang termasuk dalam mencicipi adalah mengunyah makanan untuk suatu kebutuhan seperti membantu mengunyah makanan untuk anak kecil.

7. Menelan dahak.

Menggunakan celak dan obat tetes mata tidak membatalkan puasa karena ia tidak termasuk zat makanan dan tidak masuk ke sistem pencernaan serta tidak menyebabkan tubuh menjadi kenyang dan kuat. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Tidak mengapa bercelak untuk orang yang berpuasa.”

8. Mandi, menyiramkan air di kepala, dan berenang untuk menyegarkan tubuh .

-Dari Abu Bakr bin ‘Abdirrahman, beliau berkata, “Sungguh, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Aroj mengguyur kepalanya (karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik) dengan air sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.”- (HR. Abu Daud no. 2365)

Tuh kan, mandi, guyurin air di kepala, berenang, ngadem di kulkas, dan aktivitas lainnya yang bertujuan untuk menyegarkan badan ga bikin puasa batal gaes, kecuali sambil mandi airnya kamu minum hihihi.

9. Menelan dahak.

Menurut madzhab Hanafiyah dan Malikiyah, menelan dahak tidak membatalkan puasa karena dianggap sama seperti air ludah dan bukan sesuatu yang asalnya dari luar. (Shahih Fiqh Sunnah, 2:117)

10. Menelan sesuatu yang sulit dihindari.

Seperti masih ada sisa makanan yang ikut pada air ludah dan itu jumlahnya sedikit serta sulit dihindari, juga seperti darah pada gigi yang ikut bersama air ludah dan jumlahnya sedikit, maka seperti ini tidak mengapa jika tertelan. Namun jika darah atau makanan lebih banyak dari air ludah yang tertelan, puasanya jadi batal. (Shahih Fiqh Sunnah, 2:118)

Nah itu tadi 10 hal yang tidak membatalkan puasa kita gaes. Mudah-mudahan puasa kita semua bisa lancar dan diterima sama Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

Baca juga:

 (m/ram)

TULISAN TERKAIT

JADWAL IMSAKIYAH

21 Agustus 2017
IMSAK SUBUH DZUHUR
ASHAR MAGRIB ISYA

Copyright © 2017 Indischool - Indonesia Digital School.
All rights reserved.