Header Ramadhan Indischool

Kultum Ramadhan 23 - Akhlaq Kepada Manusia

Senin, 6 Juni 2016 - 14:26 309

Manusia adalah makhluk sosial yang bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Ia tidak bisa lepas dari lingkungannya, ini adalah tabi'at dan fitrah yang diberikan Allah kepada manusia. Dan fitrah ini semakin kokoh dengan dukungan syari'at Islam yang memerintahkan kita untuk bergaul dan tidak mengunci diri di dalam kamar/rumahnya. 

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perangai buruk mereka lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dengan perangai buruk mereka." (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Albani)

Dalam hadits yang lain Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang mukmin adalah tempat/wadah persahabatan." (HR. Ahmad dan dishahihkan Albani).

Artinya seseorang ingin bersahabat dan merasa nyaman ketika bersahabat dengan seorang mukmin. 

Baca juga: Agar Didoakan Malaikat 

Dari hal diatas kita mengetahui peran yang sangat vital dari akhlak yang mulia yang bisa dikatakan senjata utama bagi seseorang untuk mewujudkan syari'at yang sesuai dengan fitrahnya tersebut di atas dan untuk melanggengkan persahabatan yang telah ia bina dengan sahabat-sahabatnya.

Allah berfirman: 

Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (QS al a'raf: 199)

Ulama (sebagaimana yang dijelaskan Syaikhul Islam & Syaikh Sa'di, dll) mengatakan bahwa ayat ini mengumpulkan akhlak-akhlak yang mulia dalam bergaul dengan manusia dan apa yang selayaknya dilakukan ketika bergaul dengan mereka:

Yang pertama: 

Memaafkan kesalahan yang mereka lakukan terhadap kita, menerima kekurangan mereka dan tidak menuntut diluar kemampuan mereka, karena tidak ada manusia yang sempurna, bahkan kita harus mensyukuri, menghargai perbuatan baik yang telah mereka upayakan dan mengambil pelajaran dari kebenaran/hal-hal positif tersebut.

Yang kedua: 

Mengajak mereka kepada kebenaran dan kebaikan serta mencegah kemungkaran (amar ma'ruf dan nahi munkar).

Tapi perlu diingat bahwa hal ini memiliki kaidah-kaidah yang harus dipahami orang yang ingin melakukannya.

Yang ketiga: 

Berpaling dari orang-orang bodoh dan tingkah laku mereka.

Maksud orang bodoh dalam ayat ini adalah: orang yang tidak tahu kebenaran, belum mau belajar dan 'keukeuh' dengan kesalahannya serta berusaha mengganggu dan mencela kita.

Maka sikap kita yang terbaik adalah tidak perlu ditanggapi dan diladeni dengan emosi dan kemarahan, karena meladeni orang tersebut hanya membuang-membuang waktu dan tenaga tanpa ada manfaat apa-apa. 

Hadapi dengan tenang serta berpaling darinya kecuali jika kita lihat ada celah untuk menasehatinya dengan baik, seperti yang dikatakan orang bijak: "Sesuatu yang tidak berharga jangan kita hargai". 

Maka, jika kita dapat celaan dan gangguan, berpalinglah dari hal tersebut, ganti topik pembahasan, sibukkan waktu kita dengan amal-amal shalih. Waktu kita terlalu berharga untuk dibuang dengan membahas dan larut dalam hal tersebut.

Betapa banyak hukum Islam yang belum kita ketahui, betapa banyak ayat Al Qur'an dan hadits yang belum kita pelajari dan hafalkan, masih banyak orang yang dengan ikhlas menerima diri kita dan kebenaran yang kita bawa dengan tangan terbuka. Maka untuk apa kita hidup seperti katak dalam tempurung yang isinya gangguan dari orang-orang bodoh?

Dan terakhir kita tetap berharap agar mereka mendapat hidayah sebagaimana kita mendapat hidayah.

Baca juga: Lari dari Rezeki

(m/ram) 

JADWAL IMSAKIYAH

21 Agustus 2017
IMSAK SUBUH DZUHUR
ASHAR MAGRIB ISYA

Copyright © 2017 Indischool - Indonesia Digital School.
All rights reserved.